Pengalaman Umroh dari Lombok Bersama Fitour International

Saya masih ingat betul, pagi itu angin berhembus sejuk dari arah Pantai Senggigi. Matahari baru mulai muncul, dan saya duduk di teras rumah bersama ibu sambil menyeruput kopi hitam. Obrolan kami pagi itu sederhana—tentang kehidupan, tentang keluarga, dan… tentang impian lama ibu saya yang belum kesampaian: berangkat umroh.

Sebagai orang Lombok, saya tumbuh di lingkungan yang sangat menjunjung nilai-nilai spiritual. Hampir di setiap sudut desa selalu ada pengajian, ceramah, atau sekadar majelis kecil yang membahas hal-hal keagamaan. Jadi wajar saja, saat impian untuk umroh muncul, itu terasa seperti sesuatu yang sangat dekat… tapi juga cukup jauh untuk diwujudkan.

Sampai suatu hari, saya bertemu dengan nama Fitour International.

Awalnya saya lihat dari Instagram—seseorang repost video pelepasan jamaah umroh dari Bandara Internasional ZAM (Zainuddin Abdul Madjid). Ada yang berbeda. Bukan sekadar pelepasan, tapi terasa hangat, teratur, dan penuh semangat. Saya penasaran, klik akunnya, dan mulai menelusuri lebih dalam.

Setelah baca-baca, saya tahu kalau mereka adalah biro perjalanan yang fokus melayani umroh Lombok. Dan bukan cuma itu, mereka juga punya pengalaman panjang, pembimbing yang kompeten, dan paling penting: banyak testimoni positif dari jamaah Lombok sendiri. Bagi saya, itu penting. Karena berbeda lho rasanya berangkat umroh dari kota besar seperti Jakarta dengan dari pulau seperti Lombok. Logistik, adaptasi, komunikasi… itu semua berperan besar dalam kenyamanan ibadah.

Yang saya suka dari Fitour adalah pendekatannya yang sangat personal. Mulai dari proses awal pendaftaran, pengarahan, manasik umroh yang terjadwal rapi tapi tetap hangat—tidak terasa seperti prosedur, lebih mirip persiapan keluarga sebelum melakukan perjalanan penting. Saya ingat saat manasik pertama, ustadz pembimbing membuka sesi dengan tanya jawab santai. Tidak ada kesan menggurui, malah seperti sharing pengalaman. Ini membuat para jamaah yang baru pertama kali umroh (termasuk ibu saya) jadi jauh lebih tenang.

Banyak hal teknis yang saya pelajari saat itu: tata cara ihram, urutan ibadah umroh, sampai hal-hal kecil seperti etika saat berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dan yang luar biasa, Fitour selalu menekankan bahwa umroh bukan cuma soal fisik, tapi soal hati. Kita tidak sekadar “berjalan”, tapi juga “menyadari” setiap langkah spiritual kita.

Setelah hari keberangkatan ditetapkan, Fitour mengadakan pelepasan resmi di salah satu masjid besar di Mataram. Ada sambutan, doa bersama, hingga sedikit wejangan dari alumni jamaah sebelumnya. Jujur, saya sempat menitikkan air mata waktu ibu saya memeluk saya erat setelah doa itu dibacakan. Rasanya… seperti mengantar beliau ke perjalanan hidup yang berbeda.

Selama di perjalanan pun, semua yang dijanjikan benar-benar terjadi. Mulai dari pendampingan yang selalu siaga, komunikasi dengan jamaah yang sangat baik, hingga jadwal ibadah yang tertata. Ada juga waktu untuk berziarah, refleksi, bahkan momen santai yang tetap dalam suasana spiritual.

Dan tahukah kamu, meski saya tidak ikut berangkat (waktu itu saya hanya mengantar), saya bisa tetap mengikuti update perjalanan lewat grup WhatsApp khusus yang dibuat oleh tim Fitour. Setiap hari, ada update foto, info kegiatan, bahkan voice note singkat dari ustadz pembimbing. Rasanya seperti ikut hadir, meski saya masih di Lombok.

Ketika ibu kembali ke tanah air, wajahnya cerah sekali. Ada perubahan yang saya rasakan. Beliau jadi lebih ringan, lebih sabar, dan lebih sering tersenyum sendiri sambil memandangi sajadahnya. Saya tahu, pengalaman spiritual itu sungguh membekas. Dan sebagai anak, saya tidak hanya merasa bangga—saya juga merasa diberkahi karena bisa membantu mewujudkan salah satu impian hidup beliau.

Sekarang, setelah melihat langsung kualitas dan pendekatan dari Fitour International, saya jadi ingin sekali ikut program umroh selanjutnya. Apalagi sekarang banyak pilihan program, mulai dari reguler, plus city tour, hingga keberangkatan eksklusif untuk keluarga kecil. Semua tetap diberangkatkan dari Lombok—jadi tidak perlu ke kota besar dulu. Ini penting bagi banyak warga lokal yang lebih nyaman berangkat dari rumah sendiri.

Saya juga perhatikan bahwa layanan umroh dari Lombok makin dicari akhir-akhir ini. Banyak komunitas pengajian, majelis taklim, bahkan pasangan muda yang ingin memulai hidup pernikahan dengan umroh bersama. Dalam situasi seperti ini, memiliki partner perjalanan seperti Fitour International adalah berkah tersendiri. Apalagi mereka sudah cukup lama beroperasi dan punya rekam jejak baik di NTB.

Di sana kamu bisa lihat pilihan program, dokumentasi keberangkatan, hingga info pembimbing dan testimoni jamaah sebelumnya. Menurut saya, penting sekali riset dulu sebelum memilih travel umroh, dan Fitour sangat terbuka untuk dihubungi dan ditanya-tanya. Bahkan mereka sering adakan webinar atau seminar kecil di masjid-masjid, jadi kamu bisa langsung bertemu timnya secara offline.

Singkatnya, Fitour bukan cuma penyedia jasa perjalanan umroh. Mereka adalah teman perjalanan spiritual. Dan buat saya, itu lebih dari cukup untuk mempercayakan impian ibadah ke Tanah Suci.

Kalau kamu punya orang tua, pasangan, atau mungkin sedang menabung untuk ibadah umroh sendiri, coba deh mulai kenalan dengan Fitour. Dari Lombok ke Makkah itu bukan mimpi jauh—dengan niat, doa, dan partner yang tepat, insyaAllah semua jadi mungkin.